Hari kemenangan semakin dekat tak
sabar rasanya untuk berkumpul dengan sanak saudara di kampung halaman. Hiruk
pikuk tradisi tahunan pun terjadi, padatnya lampu dan ramainya kendaraan pun
menjadi pemandangan yang kami nikmati. Sampailah kami di Stasiun Sawunggalih
Kutoarjo dimana orang berlalu lalang membawakan hantaran untuk hari raya esok. Stasiun
tersebut berada tidak jauh dari kediaman kakek dan nenek saya. Tampak senyum kerinduan
yang tak dapat dibendung pun merekah dari raut wajah mereka. Dengan suka cita mereka
menyambut kedatangan kami sekeluarga, obrolan hangat pun menjadi obat dari
lelahnya perjalanan pun terasa terbayar sudah.
Takbir berkumandang semakin
kencang tanda hari kemenangan semakin dekat. Dinginnya udara diiringi kicau
burung kenari di pagi hari membangunkan saya, kegiatan yang tak lupa saya
lakukan adalah menghangatkan diri didekat tungku perapian. Walaupun membuat
mata pedih namun saya selalu rindu akan wangi khas kayu bakar tersebut. Ramah
tamah suasana pedesaan pun membuat tentram hati, tanpa pilih kasih mereka
melempar senyum kepada siapapun yang mereka temui. Ibadah solat Ied pun telah kita
tunaikan. Sayur opor ayam, ketupat beserta telur balado pun tak lupad dihidangkan. Satu tradisi yang
wajib kita lalukan di hari nan suci itu yaitu Sungkeman dimana tradisi tersebut
dilakukan oleh orang yang berumur lebih muda kepada orang yang lebih tua, dengan
cara orang yang lebih tua duduk di kursi dan orang yang lebih muda duduk
berhadapan sambil membukuk seperti setengah bersujud kearah yang lebih tua
dengan kedua tangan merapat di depan wajah. Dan diiringi dengan kata – kata permintaan
maaf. Matahari pun semakin tinggi dan rumah nenek saya pun semakin padat di
datangi oleh sanak saudara. Tawa dan riuh candaan bocah pun terdengar dan
menambah ramai suasana hari itu.
Waktu pun berjalan begitu cepat, pagi –
pagi buta saya beserta keluarga sudah siap untuk memulai perjalanan wisata kami
di daerah Jawa Tengah, tujuan utama kami ialah melihat terbitnya matahari di
pantai ketawang dimana pantai tersebut berada tidak terlalu jauh dari kediaman
kakek dan nenek saya. Tiupan angin pantai sudah terasa samapi ketulang. Namun
sayangnya tinggal beberapa meter lagi, jarak kami terhenti oleh longsoran batu
yang menutupi jalan utama ke arah pantai tersebut. Akhirnya kami pun
melanjutkan berwisata ke daerah Magelang untuk melihat secara lebih dekat
dahsyatnya keindahan Candi Borobudur. Degung suara aluanan musik Jawa menyambut
kedatangan saya, rasa suka cita menyeruak di hati dan betapa bangganya saya
bisa menjadi salah satu orang yang mempunyai darah jawa tulen. Dari jauh pun
sudah terlihat betapa megah dan kokohnya stupa – stupa candi peninggalan
sejarah pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Berdirinya candi borobudur diperkirakan dibangun pada tahun 750 masehi oleh kerajaan syailendra yang pada waktu itu
menganut agama budha. Candi borobudur memiliki 72 stupa
yang berbentuk lonceng ajaib, Stupa terbesar terletak di puncak
candi sementara yang lain mengelilingi stupa hingga kebawah. Fungsi borobudur diperkirakan
sebagai jam matahari, jarum jamnya berupa bayangan stupa yang besar dan
jatuh tepat di stupa lantai bawah. Ada yang mengatakan jam pada candi borobudur menunjukan tanda kapan
masa bercocok tanam atau masa panen. Tidak lupa saya pun mengabadikan moment
tersebut dalam sebuah foto. Berikut foto saya bersama keluarga di Candi
Borobudur.
Setelah melihat pemandangan dari stupa
paling atas Candi Borobudur, saya pun tak henti – hentinya bersyukur kepada
Allah SWT atas segala nikmat, karunia serta keindahan yang telah Dia ciptakan. Rasanya
lelah saya saat harus satu persatu menaiki anak tangga pun terbayar dan hilang
setelah melihat bagaimana indah dan menajubkannya daerah sekitaran gunung
merapi. Saya berharap kita dapat terus menjaga serta melindungi aset bangsa
yang sungguh luar biasa ini. Pengalaman berharga ini menjadikan motivasi untuk
lebih semangat dan bersyukur atas segala hal yang telah saya lewati maupun hal
yang akan terjadi dikehidupan saya selanjutnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar