Individu
ialah berasal dari kata yunani yaitu “individium” yang artinya “tidak terbagi”.
Individu merupakan bagian terkecil dari kelompok
masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Namun
kata Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang yang tak
dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia
perseorangan (Dr.A. Lysen)
Pada
dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda. Individu yang
saling bergabung akan membentuk kelompok atau masyarakat. Individu tersebut akan memiliki karakteristik yang sama
dengan kelompok dimana dirinya bergabung. Individu juga dapat berarti manusia
yang memiliki peranan khas atau spesifik dalam kepribadiannya. Proses yang
meningkatakan ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai pada dirinya
sendiri, disebut proses individualisasi atau aktualisasi diri.
Maka
dari itu setiap individu pun memiliki pola pikir atau cara pandang masing-masing
serta terdapat juga tiga aspek dalam individu yaitu aspek organik jasmani,
aspek psikis rohani, dan aspek sosial. Dimana aspek aspek tersebut saling
berhubungan.
Keluarga menurut
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang
yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai
satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama–sama
memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing – masing anggotanya. Namun Durkhem
berpendapat bahwa keluarga adalah lembaga sosial sebagai hasil faktor-faktor
politik, ekonomi, dan lingkungan.
Kata
keluarga berasal dari bahasa sansekerta kula dan warga “kulawarga”
yang berarti “anggota” “kelompok kerabat”. Keluarga adalah lingkungan di mana
beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu. Secara garis besar
keluarga biasanya terdiri dari beberapa anggota yaitu Ayah, Ibu dan Anak. Keluarga
merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat.
Masyarakat
adalah wadah segenap antar hubungan sosial terdiri atas banyak sekali
kolektiva-kolektiva serta kelompok dan tiap – tiap kelompok terdiri atas
kelompok – kelompok lebih baik atau sub kelompok (Drs. JBAF Mayor Polak).
Dapat
diartikan bahawa Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang telah
memiliki tatanan kehidupan, norma – norma, adat istiadat yang sama – sama ditaati
dalam lingkungannya. Dalam lingkungan itu, antara orang tua dan anak , antara
ibu dan ayah, antara kakek dan cucu, antara sesama kaum laki – laki dan sesama kaum
wanita, larut dalam suatu kehidupan yang teratur dan terpadu dalam suatu
kelompok manusia.
Dalam
pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu :
1. Masyarakat sederhana.
Dalam
lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan
menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, nampaknya
berpangkal tolak dari kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang wanita
dan pria dalam menghadapi tantangan alam yang buas pada saat itu.
2. Masyarakat Maju.
Masyarakat
maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih dikenal dengan kelompok
organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan
serta tujuan tertentu yang akan dicapai. Organisasi kemasyarakatan tumbuh dan
berkembang dalam lingkungan terbatas sampai pada cakupan nasional, regional
maupun internasional.
Dalam masyarakat
maju dapat dibedakan dengan Masyarakat Non Industri dan Masyarakat Industri :
1. Masyarakat non Industri.
Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).
Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).
a. Kelompok Primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini disebut juga kelompok ”face to face group”, sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab.Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompoknya yaitu menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa,melainkan lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Contoh-contoh kelompok primer, antara lain : keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar, kelompok agama, dan lain sebagainya.
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini disebut juga kelompok ”face to face group”, sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab.Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompoknya yaitu menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa,melainkan lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Contoh-contoh kelompok primer, antara lain : keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar, kelompok agama, dan lain sebagainya.
b. Kelompok sekunder
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan.Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja antar anggota kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja/tugas atas dasar kemampuan : keahlian tertentu, disamping dituntut dedikasi. Contoh-contoh kelompok sekunder, misalnya : partai politik, perhimpunan serikat kerja/serikat buruh, organisasi profesi dan sebagainya.
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan.Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja antar anggota kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional dan obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja/tugas atas dasar kemampuan : keahlian tertentu, disamping dituntut dedikasi. Contoh-contoh kelompok sekunder, misalnya : partai politik, perhimpunan serikat kerja/serikat buruh, organisasi profesi dan sebagainya.
2. Masyarakat Industri
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas
masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling
ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal
pengkhususan. Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian atau
kelompok-kelompok masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan
dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri,
sampai pada batas-batas tertentu.
Jadi, antara individu, keluarga dan masyarakat sangat jelas keterkaitannya karna individu sebagai subyek utama dan penting untuk dapat mengatur atau menempatkan diri dimana mereka berada. Didalam keluarga pun, individu mempunyai tugasnya masing- masing seperti ayah sebagai kepala keluarga yang bertugas untuk mencari nafkah, ibu bertugas sebagai pengatur rumah tangga, dan anak yang bertugas sebagai pelajar. Dalam bermasyarkat, individu atau setiap manusia pun juga terdapat tugas, yaitu bergotong royong, membantu tetangga yang membutuhkan, menjadi pengontrol sosial dalam masyarakat, dan tentu menjaga dan memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban lingkungan dan masyarakat.
source : www.wikipedia.com
www.goggle.com
Nama : Retno Puji Lestari
Kelas : 2SA08
NPM : 1C614839
source : www.wikipedia.com
www.goggle.com
Nama : Retno Puji Lestari
Kelas : 2SA08
NPM : 1C614839
Tidak ada komentar:
Posting Komentar