Pelapisan Sosial
Pengertian Pelapisan Sosial
Pelapisan sosial dalam sosiologi dikenal dengan istilah stratifikasi
sosial. Kata stratifikasi sosial berasal dari kata stratum (lapisan) dan socius
(masyarakat). Menurut Pitirim A. Sorokin (Dalam Basrowri 60 ; 2005) Stratifikasi sosial diartikan sebagai pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (herarkis).
Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah.
Selanjutnya Sorokin, mengemukakan bahwa inti dari lapisan sosial adalah tidak
adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dengan
tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota
masyarakat. Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai
dasar pembentukan stratifikasi social adalah ukuran kekayaan, kekuasaan dan
wewenang, kehormatan, serta ilmu pengetahuan (Karl Max)
Kriteria penentuan seseorang dalam Stratifikasi Sosial adalah sebagai berikut :
a.Kekayaan dalam berbagai bentuk yang
diketahui oleh masyarakat diukur dalam
kuantitas atau dinyatakan secara kualitatif.
b.Daya guna
fungsional perorangan dalam hal pekerjaan.
c. Keturunan yang menunjukkan reputasi
keluarga, lamanya tinggal atau berdiam di suatu
tempat, latar belakang rasial atau
etnis, dan kebangsaan.
d. Agama yang menunjukkan tingkat
kesalehan seseorang dalam menjalankan ajaran
agamanya.
e. Ciri-ciri biologis, termasuk umur dan
jenis kelamin.
Sifat-Sifat Stratifikasi Sosial
a. Stratifikasi
Sosial Tertutup (Close Social Stratification)
Sistem stratifikasi sosial tertutup ini
membatasi atau tidak memberi kemungkinan seseorang untuk pindah dari suatu
lapisan ke lapisan sosial yang lainnya, baik ke atas maupun ke bawah. Dalam
sistem ini, satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota dari suatu strata
tertentu dalam masyarakat adalah dengan kriteria kelahiran. Dengan kata lain,
anggota kelompok dalam satu strata tidak mudah untuk melakukan mobilitas atau
gerak sosial yang bersifat vertikal, baik naik maupun turun. Dalam hal ini
anggota kelompok hanya dapat melakukan mobilitas yang bersifat horizontal.
Salah
satu contoh sistem stratifikasi sosial tertutup adalah sistem kasta pada
masyarakat Bali. Di Bali, seseorang yang sudah menempati kasta tertentu sangat
sulit, bahkan tidak bisa pindah ke kasta yang lain. Seorang anggota kasta
teratas sangat sulit untuk pindah ke kasta yang ada di bawahnya, kecuali ada
pelanggaran berat yang dilakukan oleh anggota tersebut.
b. Stratifikasi
Sosial Terbuka (Open Social Stratification)
Sistem
stratifikasi sosial terbuka ini memberi kemungkinan kepada seseorang untuk
pindah dari lapisan satu ke lapisan yang lainnya, baik ke atas maupun ke bawah
sesuai dengan kecakapan, perjuangan, maupun usaha lainnya. Atau bagi mereka
yang tidak beruntung akan jatuh dari lapisan atas ke lapisan di bawahnya. Pada
sistem ini justru akan memberikan rangsangan yang lebih besar kepada setiap
anggota masyarakat, untuk dijadikan landasan pembangunan dari sistem yang
tertutup.
Dengan kata lain, masyarakat dengan sistem pelapisan social yang bersifat terbuka ini akan lebih mudah melakukan gerak mobilitas sosial, baik horizontal maupun vertikal. Tentu saja sesuai dengan besarnya usaha dan pengorbanan yang dikeluarkan untuk mencapai strata tertentu. Sistem stratifikasi sosial pada masyarakat terbuka didorong oleh beberapa faktor berikut ini.
1) Perbedaan Ras dan Sistem Nilai Budaya (Adat Istiadat)
Perbedaan ini menyangkut warna kulit, bentuk tubuh, dan latar belakang suku bangsa. Perbedaan ini membuat penilaian pelapisan sosial sangatla terlihat.
2) Pembagian Tugas (Spesialisasi) Spesialisasi ini menyebabkan terjadinya perbedaan fungsi stratifikasi dan kekuasaan dalam suatu sistem kerja kelompok.
3) Kelangkaan Hak dan Kewajiban
Apabila pembagian hak dan kewajiban tidak merata, maka yang akan terjadi adalah kelangkaan yang menyangkut stratifikasi sosial di dalam masyarakat.
Dengan kata lain, masyarakat dengan sistem pelapisan social yang bersifat terbuka ini akan lebih mudah melakukan gerak mobilitas sosial, baik horizontal maupun vertikal. Tentu saja sesuai dengan besarnya usaha dan pengorbanan yang dikeluarkan untuk mencapai strata tertentu. Sistem stratifikasi sosial pada masyarakat terbuka didorong oleh beberapa faktor berikut ini.
1) Perbedaan Ras dan Sistem Nilai Budaya (Adat Istiadat)
Perbedaan ini menyangkut warna kulit, bentuk tubuh, dan latar belakang suku bangsa. Perbedaan ini membuat penilaian pelapisan sosial sangatla terlihat.
2) Pembagian Tugas (Spesialisasi) Spesialisasi ini menyebabkan terjadinya perbedaan fungsi stratifikasi dan kekuasaan dalam suatu sistem kerja kelompok.
3) Kelangkaan Hak dan Kewajiban
Apabila pembagian hak dan kewajiban tidak merata, maka yang akan terjadi adalah kelangkaan yang menyangkut stratifikasi sosial di dalam masyarakat.
Wujud Stratifikasi Sosial
a. Berdasarkan ekonomi
Yaitu pelapisan masyarakat berdasarkan
kepemilikan harta:
·
Kelas atas, terdiri dari kelompok orang-orang kaya
dengan leluasa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan secara berlebihan.
·
Kelas menengah, terdiri dari kelompok orang-orang yang
berkecukupan yang sudah bisa memenuhikebutuhan pokok (primer).
·
Kelas bawah, Terdiri dari orang-orang miskin yang
masih belum dapat memenuhi kebutuhan primer
b. Menurut aristoteles :
Arisoteles
membagi masyarakat secara ekonomi menjadi tiga kelas, yakni :
·
Golongan sangat kaya:
penguasa,tuan tanah dan bangsawan
·
Golongan kaya : petani dan
pedagang
·
Golongan miskin : rakyat
jelata
c. Pelapisan
masyarakat di Negara demokratis
·
Elite : orang kaya dan orang
dengan kedudukan/pekerjaan yang di hargai rakyat
·
Professional :orang dengan
gelar,memiliki ijazah dan berhasil di bidang perdagangan
·
Semiprofessional :
pedagang,pegawai kantor,teknisi berpendidikan menengah
·
Skilled :orang dengan
keterampilan mekanis,
·
Semiskilled : pekerja pabrik
tanpa keterampilan
·
Unskilled : tukang gali tanah.
d. Sosial
Sistem pengelompokan
masyarakat berdasarkan gengsi:
· Kelas atas :
1. Kelas atas atas
2. Kelas atas
menengah
3. Kelas ata bawah
· Kelas menengah
1. Kelas menengah atas
2. Kelas menengah menengah
3. Kelas menengah bawah
·
Kelas bawah
1. Kelas bawah atas
2. Kelas bawah menengah
3. Kelas bawah bawah
e. Kasta masyrakat
bali
·
Brahmana
·
Satria
·
Waisya
·
Sudra
Pendapat saya tentang pelapisan sosial sebagai
sebuah urutan atau tingkatan, sedangkan kesamaan derajat, sama seperti dengan
pelapisan sosial tetapi kesamaan derajat ialah sesuatu yang bisa dikatakan
memiliki status, tingkatan yang sama dalam lingkungan atau
daerahnya. Pelapisan sosial dan kesamaan derajat memiliki tali hubungan
yang erat, karena kedua hal ini sangat berkaitan antar yang satu dengan yang
lain. Dan kita sebagai manusia sebaiknya tidak boleh memandang orang lain
sesuai dengan lapisan sosialnya, karenanya akibat penilaian manusia sesuai
dengan pelapisan sosialnya dapat menimbulkan adu mulut sampai perkelahian. Agar
dapat tercipta negara dan bangsa Indonesia yang adil, aman dan tentram kita
harus menjauhkan unsur tersebut dari kehidupan masyarakat. Masyarakat yang
nyaman ialah bukan berdasarkan pelapisan sosial yang sama melainkan dari
beberapa lapisan sosial yang berbeda namun bergabung menjadi satu untuk
mewujudkan cita-cita hidup bersama – sama.
Nama
: Retno Puji Lestari
Npm
: 1C614839
Class
: 2SA08
Source
: www.google.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar